<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192</id><updated>2012-01-08T13:19:59.201-08:00</updated><title type='text'>Aku Dan Labirin Buku</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-4530004067436856623</id><published>2009-06-10T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T02:39:18.653-07:00</updated><title type='text'>RESENSI BUKU</title><content type='html'>Judul Buku  : Betapa Mudah Menulis&lt;br /&gt;              Karya Ilmiah&lt;br /&gt;Penulis          : Prof. Suyanto, Ph.D., Drs. Asep Jihad, M.Pd.&lt;br /&gt;Penerbit  : Eduka, Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal                   : ii + 177 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK orang mengatakan, bahwa menulis karya ilmiah itu susah. Tapi buku ini mengatakan sebaliknya, bahwa menulis karya ilmiah itu sebenarnya mudah dan gampang—tidak jauh berbeda dengan menulis karya non-ilmiah. Hanya saja, yang membedakan antara tulisan ilmiah dan non-ilmiah ada pada teknik dan metode penulisannya. Semisal, kalau dalam karya ilmiah biasanya kita hanya tinggal menuliskan gagasan apa yang ingin dituliskan, sedangkan dalam karya ilmiah ada rambu-rambu kepenulisan seperti dalam pemilihan kata, istilah ungkapan, hingga ke gaya bahasanya yang harus tepat, lugas, dan jelas. Perbedaan lainnya, dalam tulisan ilmiah terdapat prosedur pendekatan ilmiah yang meliputi; perumusan masalah; pengembangan hipotesis; pengumpulan dan analisis data; dan pengujian hipotesis.&lt;br /&gt;Menulis, baik menulis karya ilmiah atau non ilmiah ibarat orang yang sedang berdayung. Bagaimana orang berdayung? Geraknya lamban, tidak usah tergesa-gesa, butuh waktu dan kesabaran. Dalam prosesi penyampaian gagasan, pikiran, atau pengalaman ke dalam bentuk tulisan umpamakanlah kita sedang mendayung—tidak saling berebut dengan waktu. Berdayunglah dan nikmati suasananya. Biarkan perahu pikiran kita bergerak pelan, berputar, maju,  mundur, atau berhenti sejenak atau sedikit lebih lama. &lt;br /&gt;Buku yang berjudul “Betapa Mudah Menulis Karya Ilmiah” ini tidak hanya sekadar menawarkan “resep” belaka, karya ini lahir melewati pengalaman dan pergumulan intelektual yang panjang Suyanto dan Asep Jihad di dalam dunia kepenulisan. &lt;br /&gt;Beberapa teknik yang diajarkan dalam buku ini seperti tentang bagaimana merumuskan sebuah topik yang “menggigit” dan mengundang pembaca untuk membacanya lebih jauh. Cobalah perhatikan kalimat ini, topik: “Keracunan Tempe Bongkrek di Jawa Tengah,” bandingkan dengan topik dengan bunyi begini: “ Keracunan Tempe Bongkrek, Refleksi Kemiskinan di Pedesaan Jawa Tengah. Atau contoh lainnya, “Pariwisata Pasti Menguntungkan Negara,” menjadi: “Pariwisata Sumber Devisa Alternatif Tanpa Batas Bagi Negara.” Di antara dua contoh topik di atas coba bandingkan mana yang lebih menggugah minat atau emosi untuk membacanya? Tentu jawabnya yang kedua, bukan! Rahasianya, ada pada penggunaan kata. Topik yang efektif perlu dirumuskan dengan kata benda, karena itu hindarilah sebisa mungkin penggunaan kata kerja (halm. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Sebagai Kesadaran Sejarah&lt;br /&gt;Meminjam bahasanya Hernowo, menulis itu adalah untuk mengikat makna, yaitu upaya untuk mengabadikan pemahaman, ide, gagasan atau tentang apa saja yang kita temui dalam keseharian. Suatu hari Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan begini: “Ilmu itu seperti hewan buruan, dan tulisan adalah tali kekangnya. Maka, ikatlah hewan-hewan buruanmu dengan tulisan-tulisanmu.” Sayangnya, hanya segelintir orang yang mau mengikat (baca: menulis) ilmu dan gagasannya, akibatnya  di masyarakat dan dalam pusaran dia akan dilupakan sejarah. Namun, berbeda  andai dia mau menulis, gagasan, pemahaman dan semua ide-idenya akan tetap mengabadi. Namanya tidak akan lapuk dimakan waktu. Misalnya al Ghazali, beliau  sudah meninggal pada tahun 1111 tapi karya-karyanya masih terus dibaca oleh gederasi sekarang. Atau ada Ibnu Khaldun yang menulis kitab Muqaddimah pada abad ke-13, di mana ide dan gagasannya  hingga saat ini dan mungkin hingga saat-saat mendatang tetap berguna bagi peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;Abdullah Sumrahadi, dalam pengantar editor buku ini, mengatakan bahwa pikiran manusia ibarat lalu lintas yang ramai dan padat, yang jika tidak diatur dapat menimbulkan kemacetan, yaitu kemacetan berpikir. Untuk menghindari kemacetan berpikir ini menurut Sumrahadi adalah:” Perlu kiranya kemudian menurunkan dan mengatur beban kemacetan tadi ke dalam rekaman atau dokumentasi tekstual.” Masih menurut Sumrahadi, prosesi awal-awal menulis ibarat pengalaman pertama ketika ibu melahirkan, yang bagaimanapun susah dan sakitnya dua hal tersebut haruslah tetap dilahirkan (halm.ii-iii). Menulis dan juga dalam hal lainnya selalu ada yang pertama, menurut Suyanto untuk membiasakan menulis karya ilmiah bisa dibangun sama seperti aktivitas yang kita lakukan sehari-hari seperti makan, minum, tidur dan lain-lain. Kuncinya ada pada keilmuan yang kita miliki. &lt;br /&gt;Sumbangan pemikiran yang ditawarkan oleh buku ini adalah bagaimana menulis dan mulai mentradisikan menulis karya ilmiah dengan mudah, yang menurut Suyanto, masyarakat kita masih terkena demam budaya dongeng yang dari ke waktu hanya berganti wujudnya saja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-4530004067436856623?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/4530004067436856623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=4530004067436856623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/4530004067436856623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/4530004067436856623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2009/06/resensi-buku.html' title='RESENSI BUKU'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-8833982967509083523</id><published>2008-07-15T13:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T13:55:38.397-07:00</updated><title type='text'>Bila Aku Hanya Punya Satu Hari</title><content type='html'>“Bro, seandainya waktu tinggal satu hari lagi, gimana?&lt;br /&gt;Gak kebayang jutaan manusia melakukan apa di sisa waktu itu.&lt;br /&gt;Kalo kamu mau ngelakuin apa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata tersebut tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam inbox Hpku, di kirim salah seorang teman dekat yang kini tengah mengejar impian dan harapannya di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  yang akan aku lakukan jika waktuku hanya tinggal sehari saja? Haruskah aku mengunjungi semua orang terdekatku, memeluk dan mendekap erat dia yang paling kusayangi, pergi ke masjid atau moshola lalu duduk hikmat sambil berzikir atau membaca kitab suci, atau aku tidur saja tuk membunuh rasa takut di menit-menit terakhirku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, satu hari terlalu singkat untuk mengatakan salam perpisahan ke semua orang terdekat atau yang pernah dekat denganku. Memeluk dan mendekap dia yang kusayangi air mataku tak cukup untuk menangis seharian, dan hatiku terlalu sempit untuk memuat berjuta kesedihan. Pergi ke rumah Tuhan untuk menyesali atau untuk mencari tambahan pahala lalu apa bedanya aku dengan koruptor-koruptor?, yang menyesal bila ingat dosa-dosa atau menyogok (beribadah seharian penuh) biar semuanya dimudahkan. Dan bila aku memilih tidur, maka aku akan kehilangan waktu untuk berkunjung; memeluk dan mendekap dia; dan taman hatiku akan bertambah gersang bila aku menjauh dariNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, akan kujalani satu hari terakhirku seperti hari-hari biasanya; bila aku tidak sibuk akan kukunjungi ayah, ibu, adik, bibi, nenek, kakek, teman,  dan juga tentu saja kamu; memeluk dan mendekapnya tentu bila dia sudah halal bagiku; mendatangi rumahNya bila telah masuk waktunya; dan aku akan tidur jika aku sudah kelelahan. Sebab, kehidupan itu seperti kuda di malam hari; semakin cepat larinya, semakin dekatlah pagi hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-8833982967509083523?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/8833982967509083523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=8833982967509083523&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8833982967509083523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8833982967509083523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/bila-aku-hanya-punya-satu-hari.html' title='Bila Aku Hanya Punya Satu Hari'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-7152425865323746281</id><published>2008-07-14T06:19:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T06:35:44.200-07:00</updated><title type='text'>Sepotong Sajak Di Hari Wisuda</title><content type='html'>Laula burudatul bahri, lal tahabtu ilaika syauqon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa laula tasobburi, lathirtu amamaka hubban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mabruk 'ala najahika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan hanya bunga yang 'kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku berikan untukmu, tapi benih bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang kau tanam dalam hati ini yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'kan selalu ku jaga dan rawat seiring dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penghambaanku kepada Robku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dhuha, 14 Juni 2008).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-7152425865323746281?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/7152425865323746281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=7152425865323746281&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/7152425865323746281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/7152425865323746281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/sepotong-sajak-di-hari-wisuda.html' title='Sepotong Sajak Di Hari Wisuda'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-565027908344174878</id><published>2008-07-12T19:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T19:58:18.132-07:00</updated><title type='text'>Aku, dan Putri Labirin buku</title><content type='html'>Matahari sudah setinggi pohon rambutan di depan kontrakanku, cahayanya sudah memeluk kaki-kaki langit, sementara aku baru saja memasuki labirin buku. Ini tidak seperti pagi biasanya, ini pagi yang termales untuk berkunjung ke labirin buku, padahal pagi kemarin aku sudah berjanji tuk kembali lagi ke sini. Jutaan buku yang berjejer dan tertata rapi di dalam labirin itu tak ada satupun yang menarik untuk aku baca.&lt;br /&gt;“Aku ingin tidur saja”, kataku dalam hati. “Hari ini aku tidak mau membaca”, aku membatin. “Menyebalkan bertemu dengan buku melulu,” kali ini aku berkata agak sedikit keras. Dan, sesaat itu pula tiba-tiba seorang perempuan, ia lumayan cantik, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus, aku panggil dia peri labirin buku, dia senyum padaku, dan tanyanya: “Apa jadinya kehidupan kalau tak ada buku?” Aku terhenyak, dan lampu-lampu yang mengantung dan menempel di dinding labirin itu bekerjab-kerjab beberapa kali. Aku diam. Lalu, terlempar ke masa lalu—tahun 1492. Aku menyaksikan tentara-tentara Salib membunuh puluhan atau mungkin jutaan orang muslim di Andalusia. Aku meringis. Hatiku serasa seiris beling. Namun, tak ada yang mengalahi semua kesehedihanku ini selain menyaksikan jutaan buku di bakar ludes di lapangan Grananda.&lt;br /&gt;Aku terus berjalan, melangkahi mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah, abu-abu buku bergenang menyatu dengan darah, warnanya hitam kecoklatan dan setinggi lututku. Senyap-senyap aku mendengar suara seseorang antah dari mana: “Langkah pertama untuk menaklukan sebuah masyarakat adalah dengan memusnahkan ingatannya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaan dan sejarahnya. Lalu perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, ciptakan budaya baru dan tulis sejarah baru. Tak akan lama, masyarakat itu akan lupa sejarah masa kini dan masa lalunya.”&lt;br /&gt;Aku tidak bisa membayangkan kesedihan Khalifah Al-Ma’mun (786-833) andai menyaksikan apa yang kulihat ini. Tapi aku tahu, dia pasti akan sedih, dan mungkin seketika ini juga akan pingsan. Sebab, Al-Ma’mun telah mengumpulkan ribuan buku dari seluruh penjuru dunia, dia mengirimkan sarjana-sarjana terbaiknya untuk belajar dan membeli buku-buku. Ribuan buku terhebat dari Yunani, Persia, dan Sansekerta diterjemahkan ke bahasa Arab. Itu karena dia saking cintanya pada buku. Dan bahkan, Al-Ma’mun tidak tanggung-tanggung akan membayar dengan mas seberat buku yang diterjemahinya. “Tuan, bila keharuman peradaban Islam bermula dari buku, maka kepudaraannya  juga karena hilangnya buku,” aku membatin, menangkap dan menyelami kesedihan Al-Ma’mun dari dalam kuburnya. Dia pasti menangis di sana, tapi hanya bisa menangis, sebab yang mati hanya bisa meratapi, tak bisa melakukan apapun—seperti para napi di dalam sel penjara. &lt;br /&gt;Tak terasa aku jatuh tersungkur. Lututku lemas terkulai. Darah dalam batok kepalaku panas rasanya. Denyut jantungku berdegub kencang.  Dan aku kembali mendengar suara senyap-senyap: “Setelah Al-Ma’mun tiada, para pemimpin Islam berubah dari kutu busuk menjadi buaya, harem dengan ribuan selirnya lebih disukai ketimbang perpustakaan. Bercengkrama dengan wanita lebih disenangi daripada berdiskusi. Hati dan pikirannya sesak dengan lekuk tubuh wanita. Dan buku tak lagi punya ruang dalam lubuk hati dan otaknya. It’thifadhah Imajinasi para lelaki dikotori oleh seks dan khamar.”  “Cukup, cukup.....” pintaku kepada suara senyap itu sambil menangis. “Hentikan, aku tidak kuat.........” kataku lagi dengan suara sangau. Aku menangis, menangisi buku-buku yang menjadi abu itu, dan menangisi mereka yang telah meninggalkan buku.&lt;br /&gt;Peri labirin buku itu tiba-tiba mengembalikan aku lagi ke masa kini: “Kamu menangis! Kenapa kamu menangis?” Aku tersadar dari lamunan: “Tidak!” Lalu aku melanjuti:  “Aku ingin menangis, tapi tidak tahu kenapa?”  Sang peri tersenyum: “Aku juga sering menangis, dan kalau aku mau menangis ya udah aku nangis aja.”  “Tapi, aku gak biasa menangis,” balasku—sambil menarik sebuah buku dari rak, Judulnya Va dove ti porta il euore: Pergilah Ke mana Hati Membawamu—Susana Tamoro. “Itu buku bagus buat seseorang yang bimbang menghadapi hidup, coba kau baca kata-kata dicover belakangnya itu,” katanya sambil menarik buku La Tahsan dari rak sebelahku, dan aku kemudian membacanya penuh penghayatan: “Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, jangalah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklaklah dan pergilah ke mana hati membawamu...”.&lt;br /&gt; “Filosofis sekali, padat dan berisi, aku suka buku ini. Tapi sayang aku harus segera pulang, ini sudah jam 11. 38, apalagi aku masih belum mandi lagi,” kataku pada peri labirin buku itu. “Sayang sekali, padahal aku punya cerpen bagus buat kamu,” jawabnya sambil memeluk buku La Tahsan. “Hmmm, kalau boleh tahu apa judulnya?” pintaku dan kembali meletakkan karya Susana Tamoro itu. “Surat Buat Sahabat; Maaf Aku Telah Mencuri Malam Minggu Pertamamu,” jelasnya. “Boleh juga, ya udah besok saja aku bacanya,” kataku. “Sayang sekali kau harus menunggu besok tuk membacanya, padahal kau bisa menyelesaikan hanya dalam 5 menitan saja hari ini,” godanya. “Tapi aku masih banyak kerjaan....,” balasku. “Ya udah, sampai jumpa besok pagi, di sini di labirin buku,” katanya, kemudian dia terus melangkah, lalu dia menghilang dari balik tikungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-565027908344174878?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/565027908344174878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=565027908344174878&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/565027908344174878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/565027908344174878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/aku-dan-putri-labirin-buku.html' title='Aku, dan Putri Labirin buku'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-6465944925897984849</id><published>2008-07-12T19:11:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T19:27:16.592-07:00</updated><title type='text'>Surat Untuk Sahabat Tentang Tuhan dan Persahabatan</title><content type='html'>Assalamualaikum warahmatullah teman-teman seperjuangan semua. Bagaimana kabarmu semua, masihkah darah revolusionermu semerah bendera itu, atau kini telah berubah menjadi abu-abu? Semoga tidak. Sahabat, masihkah kau saling berdebat atau memperdebatkan tentang Tuhan sementara rumahNya jarang-jarang kau datangi.  Mungkinkah kau dan aku dapat berjumpa bila jarak kita dan Dia ada di bibir pantai yang tak searah? Dan, bagaimana Ia ‘kan menjawab harapan dan impian kita bila dering sms sekejap diangkat sementara suara adhan di toa-toa masjid tak masuk ke kedua lubang telinga ini. Tidak bisakah kau dan aku sejenak berhenti tidak berbicara atau menjelaskan tentang siapa Dia sebab tak ada penjelasan final tentang pengungkapan jati diriNya. Karena, Tuhan bukanlah gulanya, tapi Ia rasa manis itu sendiri. Tuhan bukanlah penjelasan, tapi Ia adalah pengalaman. Kedekatan antara kau, aku dengan Tuhan lebih tipis dari ujung rambut, (tetapi) kau dan aku membidik jarum sumpit pemikiran terlalu jauh dari sasaran.&lt;br /&gt;Immawan dan Immmawati, posisi akal atas agama adalah seperti cerita Musa yang tidak terima saat Khidir melubangi perahu, dan marah besar ketika Khidir membunuh seorang anak kecil. Namun, Musa membisu saat mengetahui bahwa melubangi perahu adalah menghindari tatapan para perampok yang mengincar perahu terbagus untuk direbutnya. Dan, nalar musa takluk  tak bisa menangkap masa depan ayah-ibu sang anak itu bila ia dibiarkan terus hidup. Itulah Musa, ia mewakili logika dan Khidir mewakili dimensi ketuhanan, yang pada akhirnya Musa (logika) takluk di bawah penjelasan Khidir (spitulitas).&lt;br /&gt;Andai agama itu bedasarkan penjelasan akal, maka membasuh bagian bawah sepatu lebih pantas diusap daripada bagian atasnya  (law kanad dhinu bil aqli, lhakana asfhala khoffi awla bil maskhi min ‘alahu).&lt;br /&gt;   Sahabat, masih pantaskah kau dan aku mengaku “anggun dalam moral” bila salam dan jabat tangan sudah asing  setiap kali berpapasan atau berjumpa di dalam suatu perjamuan. Tidak malukah kau dan aku kepada para pendahulu jika “unggul dalam intelektual”  hanya pengakuan kata tapi laku tidak tercipta. Kau dan aku tak terhitung sudah saling membincangkan di balik pintu-pintu kamar soal ketidakbecusan diri kau, diriku, dirinya, dan mereka punya tradisi. Sementara kau dan aku tidak tahu ukuran pasti baju ukuran masing-masing. Lantas, di mana keanggunan itu mengendap, dan terkunci dimanakah keintelektulan itu  membatu?&lt;br /&gt;Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak memiliki buah ( Alilmu bhila amalin khasajarathi  bila samrhatin).&lt;br /&gt;   Sahabat, mungkin suratku ini terlalu kasar aku tuliskan untukmu, tapi itulah kegundahan perasaan seorang teman yang dulu aku, kau, dia, dan mereka duduk bersama melingkari semampan nasi dengan lauk sate tempe itu. Kau bahagia, aku juga, dan semua senang seusai kita pulang setelah empat hari dikurung di tempat yang terpencil itu. Dan sejumpanya esok pagi di lorong-lorong kampus itu kau dan aku saling berjabat tangan, diskusi, lalu makan siang bersama. Namun seiring berjalannya waktu, kau dan aku mulai berjarak karena aku menghalangi kepentinganmu, dan kau menghalangi kebutuhanku. Dan kau tidak lagi mau berjabat tangan denganku terkecuali bila aku yang memulainya, dan begitu juga aku, enggan mengulurkan bila kau tidak terlebih dahulu menyalamiku. Dulu kau dan aku, dalam radius seratus meter dapat saling menangkap kehadiran, tetapi kini, jarak lima langkah kau dan aku seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Dulu kau hampir setiap waktu menanyaiku apakah aku sudah makan atau belum, namun kini, kau berpura tak mengerti kalau sedari tadi aku menganjal perut menahan lapar.&lt;br /&gt;   Sahabat, sepertinya aku harus sudahi dulu suratku ini—padahal ada banyak hal yang ingin aku tuliskan padamu, tapi berhubung Ibu yang tengah memasak di dapur sudah berkali-kali berteriak  memanggilku terpaksa aku harus segera ke sana. Sepertinya Ibuku akan memarahiku lagi karena semalam aku lupa menutup kuat lemari tempat menyimpan ikan bandeng oleh-oleh nenek kemarin. Pasti kucing merah milik tetangga sebelah itu yang telah memakannya. Semoga Tuhan membuka hatimu dan pikiranku lagi. Biar esok pagi kau dan kau bisa bersama-sama lagi mengibarkan bendera merah kita di tanah yang keras dan gersang itu. Dan diriku dan engkau siap membeku bila ada yang ingin merusak taman dan mencabuti bunga melati itu. Terima kasih dan maaf mendalam. Kutunggu balasanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             &lt;br /&gt;Ini aku sahabatmu, M. Nizar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-6465944925897984849?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/6465944925897984849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=6465944925897984849&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6465944925897984849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6465944925897984849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/surat-untuk-teman.html' title='Surat Untuk Sahabat Tentang Tuhan dan Persahabatan'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-5245070516077647720</id><published>2008-07-12T08:28:00.001-07:00</published><updated>2008-07-12T19:37:45.435-07:00</updated><title type='text'>--cinta--</title><content type='html'>“Seperti matahari/Cinta ini tak seorang pun menciptanya/Bahkan kamu dan aku/Bahkan mawar/yang berguru pada musim/Serta para rahib /yang tekun menyimak wahyu”. Itulah cinta, ia adalah tamu yang terkadang datang tiba-tiba mengetuk pintu hati saat sedang terlelap, dan lalu pergi begitu saja saat mata tengah terjaga. Begitulah cinta, ia misteri, dan tak perlu kamu memikirkannya secara mendalam. Ikutilah kemana cinta menuntunmu, duduk hikmatlah bila cinta sedang bersabda padamu, dan lakukanlah bila cinta memerintahmu—sekalipun ia meminta pengorbananmu. Panggullah basoka hatimu dan ledakkanlah tubuhmu bila cinta memintamu bertaruh nyawa. Ketika aku mati/Dunia akan membisu soal diriku/Yang tersisa hanya sebuah kata; Aku pernah mencintai.&lt;br /&gt;Aku manusia;Rindu rasa rindu rupa. Cinta dan manusia ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Manusia tanpa cinta atau cinta tanpa manusia semisal taman yang tak berpenghuni, atau seperti malam yang tanpa bintang dan purnama. Sebab itu, jatuh cinta bukanlah sebuah persoalan, tapi hidup tanpa cintalah yang menjadi persoalan. Dan, mengemis cinta bukanlah seorang perampok, namun penghujat cintalah yang mesti dihakimi. Menangis karena cinta bukanlah seorang yang cengeng, atau mungkinkah air mata diciptakan adalah karena manusia memiliki cinta?.&lt;br /&gt;Cinta itu bisa didefinisikan, tetapi kita tidak pernah tepat mendefinisikannya. Konon, cinta itu ibarat air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ia adalah luapan hati dan gejolaknya ketika rindu ingin bertemu dengan orang yang dicintainya. Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu adalah ketenangan dan keyakinan, artinya; jika seseorang telah jatuh cinta maka hatinya tidak akan lagi bertengger ke hati yang lain. Menurut pendapat yang lain cinta ialah sebuah bejana atau lainnya, yang menjamin keamanan. Cinta dalam pengertian ini menggambarkan bahwa seseorang yang jatuh cinta rela memikul beban yang berat demi orang yang dicintainya. Begitulah cinta, maknanya tidak pernah selesai diungkapkan sepanjang sejarah peradaban manusia. Hal ini, mungkin karena cinta itu adalah lautan yang bertepi, tidak pula berwarna, ketinggian maknanya lebih tinggi dari kejauhan bintang di angkasa sana, dan kemisteriannya lebih rumit dari bahasa sandi yang diciptakan oleh Davinci pada lukisan Monalisanya. Lagu-lagu cinta, puisi-puisi cinta, film-film cinta, novel cinta, talk show cinta, dan cinta-cinta lainnya adalah wacana yang tidak akan pernah habis untuk terus di gali. Ini mungkin karena cinta berada di dunia rasa, dimensi pengalaman, dan alam yang tidak bisa disentuh dan  dilihat. Yang bisa dilakukan oleh anak manusia sekadar meraba-raba dimensinya.&lt;br /&gt;Namun, sungguh disayangkan pabila makna cinta itu hanya sebatas menyatu dengan kertas-kertas—tidak melebur pada jiwa dan raga ini. Amat tidak bijak misalnya, kalau kita pandai menciptakan puluhan lagu atau puisi cinta, tapi apa yang kita dengar, lihat, katakan, dan lakukan sama sekali bukan atas nama cinta dan tak seindah karya-karya kita itu. Betapa elok bila aku, kamu, dia, dan mereka lakukan atas nama cinta—entah karena cinta pada Tuhan, kehidupan, atau atas nama cinta sesama manusia—dan bukan atas nama keegoisan masing-masing.&lt;br /&gt;Sejenak marilah merenung penuh hikmat, memeriksa ulang atas apa yang telah kita lakukan selama ini pada dia, saya, mereka, dan diri kita sendiri. Hiruplah energi positif yang ada di alam ini, lalu keluarkan dengan perlahan seluruh energi negatif yang ada dalam diri ini. Lalu rasakanlah beberapa detik setelahnya, maka kita ‘kan merasakan ketenangan dan kedamaian di hati ini. Yah, itulah yang dipinta oleh cinta dari semua anak manusia, dan bukan justru sebaliknya.&lt;br /&gt;Tanpa cinta, kemanusian tak akan mungkin ada, bahkan dalam waktu satu hari saja. Tidaklah disebut lonceng bila ia dibiarkan menggantung dan tidak pernah dibunyikan. Keberadaan lonceng itu sekadar hiasan belaka kalau ia masih terus bergantung membisu. Dan begitu dengan cinta, bukanlah cinta namanya kalau ia hanya disimpan dalam hati dan tak pernah coba diungkapkan. Ia baru cinta namanya kalau sudah dinyatakan, seperti: kupu-kupu baru dinamakan kupu-kupu kalau ia sudah lepas dari kepompongnya, atau sebelum anak ayam menetas ia masih disebut telur.&lt;br /&gt;Bagas kehilangan Alex dalam film Alexanderia karena dia tidak mau jujur akan isi hatinya pada Alex, teman dekatnya sejak masih kanak-kanak. Dan begitu juga dengan Rahel dalam film Heart yang baru menyadari betapa Rahel selama ini mencintai Farel di waktu sosok Luna hadir dalam hari-hari Farel. Bagas dalam dalam film Alexanderia ialah tamsil lelaki yang tak menyadari bahwa perempuan itu butuh kepastian dan kejujuran. Sedangkan Rahel dalam Heart adalah gambaran seorang perempuan yang masih bepegang teguh bahwa perempuan tidak pantas mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Ketidakjujuran dan lebih memilih mencintai dengan diam-diam—seperti apa yang dilakukan Bagas dan Rahel seringkali berakhir dengan penyesalan dan kesedihan. Begitulah logika cinta. Dan, bersiaplah untuk menjadi Bagas dan Rahel yang lain bila loncengmu dibiarkan mengantung dan menunggu angin yang tepat untuk membunyikannya.&lt;br /&gt;Sekedar kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Mencintai tidaklah harus memiliki, demikianlah kata orang. Mencintai dan dicintai adalah hak setiap orang dan melanggar hak bila memaksakan orang lain untuk mencintai kita. Cukup katakan saja: Seperti gerimis; aku jatuh cinta perlahan-lahan.” Karena, yang terpenting dia mengetahui perasaanmu  padanya dari bibirmu sendiri. Diamlah, tunggulah jawabannya. Dan jangan bersedih bila cintamu ditolak, sebab ada yang lebih menyakitkan, yaitu mencintai seseorang dan tak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Atau katakan lagi: Aku tidak berharap kamu harus punya perasaan yang sama denganku, tetapi paling tidak kamu tahu bahwa aku mencintaimu”.&lt;br /&gt;Kamu adalah siapa yang kamu cintai, dan bukan siapa yang mencintaimu. Mengapa Otsu dalam novel Musashi lebih memilih untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Miyamoto Mushasi ketimbang pada tunagannya sendiri, Matahachi?&lt;br /&gt;Otsu mencintai Mushasi bukan karena dia seorang samurai yang tidak terkalahkan, berbadan atletis, atau dianggap dia memiliki masa depan yang cerah karena banyak daimyo (tuan tanah) yang meliriknya. Dan begitu juga dengan Musashi, menyukai Otsu tidaklah karena ia pernah menyelamatkan hidupnya ketika di hukum oleh pendeta Takuan di pohon Kriptomeria Tua waktu itu. Tetapi, karena ada kecocokan jiwa antara pribadi Musashi dengan Otsu yang membuat cinta itu tercipta di hati mereka berdua.&lt;br /&gt;Cinta sejati sama saja dengan hantu: seluruh dunia membicarakannya, namun cuma sedikit orang yang pernah melihatnya.  Begitulah cinta sejati, sampai saat ini masih menjadi perdebatan antara ada dan tidak ada. Cinta sejati adalah cinta yang “sebenar-benarnya” terhadap seseorang. Misalnya, mungkin kekasihmu, tunangan mereka, atau suami dan istri kita bukanlah orang pertama yang singgah di hati ini, tetapi menjalin hubungan dengannya kamu merasakan menjadi kamu yang sebenarnya. Atau, dari sekian orang yang pernah hadir di hatimu sampai saat ini hanya ada satu orang yang selalu menjadi pengantar tidurmu, di saat kamu sedang makan sendirian kamu membayangkan dia sedang duduk manis di depanmu, atau ketika bagun dari tidur kamu berpikir seolah-olah dia yang telah membangunkanmu. Dan seandainya dia kini telah menjadi sahabat kamu akan merasakan ada pengakuan persahabatan yang berbeda dibanding pertemananmu dengan yang lain, misalnya: kamu dan dia masih sering mengingatkan untuk jangan lupa makan atau jangan tidur terlalu larut malam. Kamu dan dia masih takut untuk saling menatap dan memilih saling melempar pandang ke arah yang lain. Atau kamu terkadang membayangkan; seandainya suatu hari kamu berbaring di rumah sakit kamu berharap dialah yang menungguimu; atau bila dia yang sedang berbaring di sana, pastilah kamu orang pertama yang akan menjaganya sampai dia sembuh. Kepedulianmu dan perhatian dia padamu tidak dengan sentuhan atau pelukan, tapi hanya lewat doa’.&lt;br /&gt;Akhirnya, cintailah dan pilihlah dia yang bisa menjadi makmummu; atau dia yang bisa kamu jadikan imam. Jika tempo hari cintamu tumbuh karena adanya pertemuan yang tekun, kini cintai dan pilihlah sesorang yang memang layak kamu cintai, sebab hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan bersama dengan pilihan yang salah. Kalau dulu kamu menerima dia adalah karena dia mengatakan: “Aku suka kamu”, yang lalu kamu membalasnya: “Iya, aku terima cintamu”. Kini lakukanlah bahwa mencintai itu adalah sebuah pertanggung jawaban; tanggung jawab untuk saling menjaga, tanggung jawab untuk saling menghormati, tanggung jawab untuk saling berbagi, tanggung jawab untuk saling menyayangi, tanggung jawab untuk tidak saling membohongi, tanggung jawab untuk saling peduli, dan tanggung jawab untuk saling menjaga kehormatan masing-masing. Sehingga, tidak ada lagi kabar di headline-headline koran atau berita di media massa tentang penemuan seorang anak yang hanya mau enak tapi tak mau anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-5245070516077647720?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/5245070516077647720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=5245070516077647720&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/5245070516077647720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/5245070516077647720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/yang-ku-tahu-tentang-cinta.html' title='--cinta--'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-1186010395531107257</id><published>2008-07-12T08:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T19:38:14.114-07:00</updated><title type='text'>Aku dan Labirin Buku</title><content type='html'>Pagi ini buku-bukuku berceceran di lantai kamarku, sudah dua hari ini aku tak merapikan buku-buku itu. Sengaja kubiarkan buku-buku itu menumpuk dan terbaring tak rapi, dan ini bukan kebiasaanku tak memberesi buku-buku setelah selesai ku membacanya. Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya aku terus asyik memasuki alam buku di kamarku yang sempit dan pengab karena bau kertas buku-buku. Biarlah bau dan pengap, aku tak ‘kan pernah membuang buku-buku ini. Karena, aku sudah terlanjur mencintai buku. Rasa cintaku pada buku seperti perasan Zulaikha pada Yusuf, dan sedalam cinta Romeo terhadap Juliet. Sebab, dari buku peradaban manusia itu dimulai.&lt;br /&gt;Andai manusia tidak merekam atau enggan menuliskan apa yang telah diketahuinya mungkin sampai saat ini manusia masih berkelana dengan kuda atau unta. Masih menyeberangi lautan dengan perahu yang dirakit dari kayu atau bambu. Hanya bisa menatap burung-burung yang terbang melayang-layang di atas awan. Sekedar bisa melihat bintang-bintang dan tidak mengerti ada apa di luar bumi ini. Namun, buku telah membuka mata manusia dan mengantarkan menjelajahi jagat raya ini. Buku-lah yang telah menerbangkan  manusia dari negara satu ke negara lain dalam hitungan detak jam. Perantara buku, lautan yang luasnya melebihi daratan kini dapat dijelahi saban waktu. Kalau tak ada buku manusia tidak akan pernah mengerti bahwa di luar bumi ini ada jagat yang bernama Bima Sakti. Manusia bukanlah apa-apa kalau tak ada buku.&lt;br /&gt;           Buku adalah ruang yang terkadang senyap, sepi, sunyi, dan juga labirin yang penuh dengan dinamika pertempuran-pertempuran sengit antara satu ide dengan ide-ide lainnya. Tetapi, sesunyi dan sepi apapun alam buku ia tak akan menjadikan penghuninya berpenyakitan mental. Dan, sedahsyat apapun pertarungan di alam buku ia tak akan mengantarkan petarungnya pada kematian. Bahkan, pertarungan antara satu teks dengan teks lainnya memicu otak untuk terus memikir, menelaah, dan merenungkan. Karena buku, si dungu berubah menjadi cerdik-tauladan karena ia menjadi pengunjung setia labirin buku. Seperti, seorang petarung legendaris Jepang, namanya Miyamoto Musashi (1584-1645), mulanya sebelum Musashi bertemu dengan buku ia seorang pemuda yang tak disenangi dan dibenci oleh orang-orang di kampungnya, namun setelah pendeta Takuan mengurungnya selama sekian musim di dalam ruangan yang hanya ada buku-buku sekarang dia menjadi tokoh inspirasi orang-orang Jepang modern. Demikian juga, Alexander Graham Bell (1847-1922) dengan penemuan telponnya mengantarkan manusia pada era telekomunikasi adalah karena ia berteman dengan buku. Di tahun 1879 sebuah penemuan menggantikan lampu teplok ke lampu pijar itu karena Thomas Alva Edison (1847-1931) menyukai dunia buku. Averous, orang Islam memanggilnya Ibn Rusyd, buku-bukunya telah menyelamatkan kekerdilan  cara berpikir manusia dengan berpikir mendalam dan kritis. Imam Bukhiri, Ibn Majah, Imam Tirmidhi, Imam Nasa’i, Imam Tabrhoni, Imam Hakim dan imam-imam pengumpul hadist lainnya  adalah berkat buku-bukunya mereka menjadi penyambung sunnah Rasulllah dari masa ke masa. Ruang masa lalu dan waktu masa depan dapat ditembus dengan buku, walau kita hanya duduk di dalam kamar atau perpustakaan. Begitulah labirin buku, sebuah ruangan yang dapat mempertemukan kita dengan orang-orang yang hidup di masa lalu, dan sebuah lorong yang akan mengantarkan manusia  pada rumah masa depan yang tercerahkan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;           Tak terasa dua jam lebih lamanya aku terjebak di dalam labirin buku, suara kokokan ayam kini hanya terdengar satu dua kali saja, bunyi kicau burung-burung sudah tak terdengar lagi, dan suara obrolan para tetangga mulai menembus bilik-bilik kamarku. Matahari sudah setinggi tower telpon atau pemancar radio.  Itu artinya, aku harus segera ke luar dari sini. Tapi di mana pintu jalan keluarnya?&lt;br /&gt;Aku berlari mencari pintu keluar, lorongnya begitu panjang dan nampak tak  berujung. Aku  terus  berlari kencang sambil tengok ke kanan dan ke kiri tuk mencari pintu keluar. Setelah cukup lelah berlari dan berputar-putar lalu ku temukan dua ruas jalan, ke arah kiri dan jalan ke kanan. Sejenak aku diam, menimang-nimang ke arah lorong mana yang harus aku ambil. Akhirnya, kuputuskan memilih belok ke kanan. Dan, lima meter dari belokokan lorong itu aku bertemu dengan Abu Hayyan al Tawhidi (w. 414 H./1023 M.) yang meninggal disiksa karena buku-bukunya, di sana aku juga disapa oleh Imam Al-Nasa’i (w. 309 H./915 M) yang juga sama disiksa dan meninggalkan karena buku-bukunya, dan aku juga bertemu dengan Einstein yang mengejekku dengan menjulurkan lidah sambil membelalakkan ke dua matanya dengan rambut yang acak-acakan.    &lt;br /&gt;           Kini, sudah ku temukan pintu keluar dari lorong buku, namun ketika kutengah memutar ke kanan kunci pintu labirin itu tiba–tiba seseorang berlari ke arahku, katanya namanya Soe Hok Gei (1942-1969). Dia beterima kasih pada anak bangsa ini yang telah mem-buku-kan catatan hariannya. “Catatan Seorang Demonstran! Judul bagus, boleh juga. Aku menyukainya,” katanya sambil tersenyum padaku. “Aku juga suka, terutama puisimu yang kau tulis tanggal 11 November 1969 itu,” balasku. “Yang mana? aku sudah lupa itu.... ” dia terlihat bingung dan beberapa kali memukul-mukul pelan kepalanya dengan buku yang sejak tadi diapitnya “Atau, maukah kau membacakannya untukku,” katanya lagi. “Baiklah, tapi hanya sepenggal saja..sebab aku harus segera pergi,” pintaku. “Tidak masalah, “ balasnya dengan sebelah alis terangkat. “Begini kau menulisnya: Mari sini sayangku/kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku/tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung/kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa.”&lt;br /&gt;“Wow, puisi yang bagus”, seseorang dari belakang menepuk pundakku. Dia Pramoedya Ananta Toer. “Itu karya dia, “kataku menunjuk ke Soe Hok Gie.&lt;br /&gt;“Yah, begitulah nak. Sebab itu kau harus menulis, selama kau tidak menulis, kau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah”, pesan Pram padaku. “Iya, aku akan menulis dengan kepala tegak tanpa mesti takut. Seperti kalian. Terima kasih,” kataku. Mereka tersenyum. Aku juga. Lalu aku segera pergi menuju ke pintu keluar dari labirin buku itu, dan besok pagi aku akan kembali ke dalam labirin buku itu lagi.Tunggulah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-1186010395531107257?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/1186010395531107257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=1186010395531107257&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/1186010395531107257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/1186010395531107257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2008/07/aku-dan-labirin-buku.html' title='Aku dan Labirin Buku'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-8982949040319827374</id><published>2007-06-26T21:31:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T21:33:07.918-07:00</updated><title type='text'>Harapan</title><content type='html'>“Hidup tanpa harapan adalah hidup yang sepi, sedih, dan prihatin”. (Amien Ra’is)&lt;br /&gt;Yah, hanya harapanlah yang akan membuat hidup kita ini tidak akan menjadi sepi, menyedihkan, atau memprihatikan. Seseorang yang memiliki harapan dan impian, gerak-gerik kehidupannya akan menjadi penuh makna. Seperti; ketika ia berdiri atau duduk ia punya alasan mengapa dia melakukannya. Ini akan berbeda sekali bagi mereka yang tidak memiliki harapan dan impian maka layar kehidupannya hanya akan selalu mengikuti kemana angin membawanya, hidup hanyalah perjalanan tanpa arah. Sang nahkoda memang tidak akan pernah bisa mengendalikan arah angin, tapi kemana ia akan membawa kapalnya itu ada ditangannya. Begitu pula dengan arah kehidupan ini, kita memiliki kebebasan dan kesempatan untuk menjadi apa dan mau kemana arahnya:&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri...(QS Ar-Ra’ad (13): 11).&lt;br /&gt; Perubahan sejarah peradaban manusia, menurut Hegel berakar dalam tahap kesadaran yang mendahuluinya, yakni pada tingkat ide-ide. Ide-ide disini bisa dipahami semacam sebuah harapan atau impian. Lihat saja bagaimana eropa maju seperti saat ini diawali oleh kesadaran mereka untuk maju, bukan takdir Tuhan. Harapan atau impian itu tidaklah harus setinggi gunung himalaya atau sebesar tembok besar cina. Mulailah kita  dari hal yang terkecil dan sederhana dulu. Karena suatu perubahan besar itu selalu diawali dari perubahan yang terkecil terlebih dahulu. Kemudian sekarang pertanyaannya bagaimana agar harapan dan impian tersebut akan terus hidup dalam diri kita ?&lt;br /&gt;“Taruh semua harapan, cita-cita, keyakinan, dan apalah namanya 5 cm di depan keningmu, biarlah dia mengambang, menggantung, dan jangan biarkan dia menempel di keningmu Karena mata kita setiap hari akan melihatnya dan setiap saat kita akan membawanya kemanapun kita melangkah. Kemudian yang kita butuhkan adalah...langkah yang akan berjalan lebih cepat, tangan yang akan berbuat lebih banyak, dan mata yang akan menatap lebih lama. Jangan pernah menanyakan apakah mimpimu, harapanmu, atau cita-citamu itu akan menjadi kenyataan akan tetapi keyakinanlah yang harus dipupuk bahwa kita pasti meraih itu semuanya”, demikianlah Ian mengkuliahi teman-temannya ketika mereka tidak mempercayai kalau mereka mampu menaklukkan gunung Mahameru (baca novel 5 cm).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-8982949040319827374?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/8982949040319827374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=8982949040319827374&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8982949040319827374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8982949040319827374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/harapan.html' title='Harapan'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-1771948707359239714</id><published>2007-06-26T21:29:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T21:30:13.829-07:00</updated><title type='text'>Surat Tuan Putri (1)</title><content type='html'>Untuk Tuan Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sejahtera selalu untuk Tuan Putri. Perkenalkan hamba seorang Panglima perang Tuan Putri. Cukup Tuan Putri memanggil hamba “Sang Panglima” saja. Mungkin hamba telah lancang dan berani karena menyurati Tuan Putri sendiri. Tak apalah, hamba sudah siap untuk menerima hukuman kalau Tuan Putri menghendaki. Bagi hamba keputusan Tuan Putri adalah suatu kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Tuan Putri mendengar cerita tentang Cinderella? Hamba sering mendengar, katanya Tuan Putri menyukai dongeng. Dan, hamba pun yakin tuan putri pasti pernah mendengar cerita tentang Cinderella. Tuan Putri, dulu tak ada yang menyangka kalau Cinderella kelak akan menjadi menantu kerajaan hanya karen sepatu kaca. Begitu pun halnya dengan Sulaikha, tidak ada orang yang menyangka ksuaminya kelak adalah Yusuf, anak angkatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah nasib Tuan Putri, tidak ada orang yang tahu pasti akan lembaran demi lembaran perjalan anak manusia. Satu-satunya yang pasti adalah tuan putri kelak akan mengandung anak-anak dari suami Tuan Putri. Dan Tuan Putri tidak bisa bernegosiasi dengan nasib agar suami tuan putri bisa mengandung anak-anak dari Tuan Putri. Inilah yang kita sebut dengan fitrah Tuan Putri, Fitrah dimana kami seorang prajurit harus maju ke medan perang demi mempertahankan tanah airnya. Dan fitrah dimana para perempuan menunggu altar pemujaan tuk mendoa’kan kemenangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, bagi kami goresan pedang, tusukan tombak, dan tembakan busur panah adalah takdir sebagai seorang prajurit. Dan kami memang harus menerimanya. Lalu bagaimana dengan kaum perempuan, termasuk Tuan Putri sendiri? Apakah mereka menolak hanya dengan duduk memuja ditempat-tempat pemujaan? Dan menyediakan makanan sepulangnya kami dari medan pertempuran atau mengobati beberapa diantara kami yang terluka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, beberapa hari yang lalu, kami berpapasan dengan seorang perempuan dalam suatu perjalanan pulang menuju kemah-kemah. Dia menghentikan kami, katanya dia ingin bergabung tuk juga ikut bertempur. Dan hamba katakan tidak boleh padanya. “Sebilah keris tidak hanya tuk laki-laki!”, teriaknya dengan sorotan tajam pada Hamba. Kami hnya bisa saling menoleh, tidak tahu harus menjawab apa padanya.&lt;br /&gt;“Siapa yang mengatakan kalau kami para perempuan hanya ditakdirkan hanya sebagai penghilang penat kalian”. Dia kembali melanjuti dengan sorotan dalam pada Hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisakah kami menebas leher mereka di dalam suatu peperangan?”, tanya hamba pada nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, di dalam bola mata mereka Hamba tidak pernah melihat api permusuhan. Tangan-tangan mereka terlalu halus untuk kami potong dan apabali tuk kami cincang . Dan rahim-rahim mereka terlalu mulia untuk kami tebas.&lt;br /&gt;Hanya ini yang ingin hamba tuliskan. Suatu saat nanti hamba akan kembali menyurati Tuan Putri. Jaga kesehatan Tuan Putri dan doa’kan untuk kemenangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Panglima&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-1771948707359239714?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/1771948707359239714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=1771948707359239714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/1771948707359239714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/1771948707359239714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/surat_26.html' title='Surat Tuan Putri (1)'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-6219462787519964275</id><published>2007-06-26T21:26:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T21:29:05.412-07:00</updated><title type='text'>Surat Tuan Putri (2)</title><content type='html'>Ini Hamba, Tuan Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Tuan putri, sejak dua hari yang lalu Hamba begitu ingin melihat Tuan Putri. Entahlah, mengagumi Tuan Putri bagi Hamba merupakan kesadaran dan diluar ketidaksadaran. Saat-saat setiap kali Hamba ingin bertemu Tuan Putri, Hamba selalu berputar-putar diluar lingkungan istana, berharap bisa bertemu dengan Tuan Putri. Dan ketika tak ada tanda-tanda kemunculan Tuan Putri yang bisa hamba lakukan hanya mengadu pada kuda tunggangan Hamba. Pohon Maja itulah yang menjadi saksi pengaduan Hamba pada si Putih, hamba biasa memanggil kuda tunggangan Hamba dengan sebutan si putih sesuai dengan warna kulitnya. Tapi si Putih hanya mengibas-ngibaskan ekornya ke badan dalam setiap pengaduan hamba padanya. Hanya dia dan pohon Maja itulah yang benar-benar memahami perasaan Hamba terhadap Tuan Putri. Pernahkah Tuan Putri memahami bahasa ombak sebelum ia menyapa pantai? Kerinduan Hamba pada Tuan Putri serupa deburan ombak itu Tuan Putri, begitu dalam dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering Hamba berandai-andai, ingin mengajak Tuan Putri untuk menunggangi si Putih, bersama-sama melihat keindahan alam diluar istana. Tuan Putri, betapa alam ini amat mengangumkan, gunung-gunung berdiri tegak dengan puncaknya yang hijau, bunga-bunga bermekaran menambahi indahnya ladang-ladang, cericit-cericit suara burung terdengar merdu seperti deru angin sepoi, dan awan-awan yang menghiasi langit serupa pameran lukisan-lukisan termegah di kehidupan ini. Namun, apalah artinya semua keindahan itu jika hanya dinikmati seorang diri, tak ada artinya Tuan Putri. Yang ada hanya sebatas kekaguman belaka atas semua keindahan, lalu memuji Sang Pemilik semua keindahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, begitu pula halnya dengan semua keindahan yang ada dalam istana, akan tidak bermakna kalau hanya sebatas untuk dinikmati Tuan Putri sendiri. Begitulah hidup, Tuan Putri. Kita semuanya ingin sama-sama menyaksikan hidup orang yang paling kita sayangi, dan dia pun juga mengharapkan kita untuk menjadi saksi hidupnya. Agar dikemudian hari saat kita terlempar ke masa lalu akan ada orang yang menanggapinya, kemudian mungkin kita akan sama-sama tersenyum, terbahak, atau bersama-sama menangis.&lt;br /&gt;Tuan Putri, hari ini Hamba terluka, busur anak panah menancap tepat dipaha kiri Hamba. Untunglah anak panah itu tidak beracun, dan mungkin beberapa hari lagi akan mengering.&lt;br /&gt;Tuan Putri, sepertinya beberapa prajurit sudah tahu tentang kekaguman Hamba terhadap Tuan Putri. Selepas anak panah itu dicabut dari paha Hamba membuat malam-malam Hamba menjadi begitu dingin dan berkeringat. Dan dalam setiap guman, hati Hamba selalu memanggil Tuan Putri. Ketika pulas bibir Hamba seringkali menyebut-menyebut Tuan Putri. Dari igauan inilah kemudian banyak prajurit yang tahu tentang rahasia terdalam lubuk hati Hamba. Tapi biarlah, Hamba tidak peduli sekalipun seluruh pasukan Hamba telah mengetahui semua ini. Karena mencintai dan menyayangi seorang pada akhirnya secara perlahan akan nampak kepermukaan. Bukankah begitu, Tuan Putri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, karena hari sudah menjelang sore, sebentar lagi keindahan mega ini segera akan dirampas oleh malam mungkin Hamba cukupkan sampai disini dulu surat Hamba. Hamba berjanji akan selalu menyurati Tuan Putri, sepanjang tubuh ini tidak terbelah oleh tebasan pedang atau tusukan tombak. Doa’kan selalu untuk kemenangan semua pertempuran Hamba, demi kejayaaan negeri kita untuk saat ini dan saat-saat mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukuplah melihat Venus dimalam hari sebagai pelipur lara rasa rindu Hamba pada Tuan Putri di negeri yang jauh ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Panglima&lt;br /&gt;21.05.07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-6219462787519964275?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/6219462787519964275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=6219462787519964275&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6219462787519964275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6219462787519964275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/surat.html' title='Surat Tuan Putri (2)'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-6371753280392074289</id><published>2007-06-26T21:25:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T21:25:55.593-07:00</updated><title type='text'>Surat Tuan Putri (3)</title><content type='html'>Surat Rindu Tuk Tuan Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Tuan Putri  datang mengganggu dalam setiap desehan nafas Hamba malam ini. Jujurlah, pernahkah Tuan Putri merindui Hamba walau hanya dalam sekejap, seperti begitu ingin melihat Hamba, dan ingin selalu disamping Hamba? Entahlah, Hamba tidak tahu mengapa rindu Hamba pada Tuan Putri begitu kuat dalam setiap malam-malam Hamba, dan bahkan menjelang tidur Hamba selalu meminta pada Yang Maha Welas Asih agar dapat berjumpa dengan Tuan Putri, sekalipun itu hanya dalam mimpi. Lukisan yang pernah Tuan Putri berikan pada Hamba, merupakan satu-satunya obat pelipur rindu termujarab bagi hati Hamba dalam setiap kerinduan Hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, Hamba merasa malu pada diri sendiri dengan kerinduan yang seringkali datang ini. Tapi, apa boleh dikata, kerinduan Hamba pada Tuan Putri adalah tamu di taman hati yang sama tak pernah Hamba undang kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghilangkan kerinduan ini, Hamba seringkali berjalan-jalan dengan tanpa di temani Si Putih. Dan tempat-tempat yang sering Hamba datangi dalam setiap kerinduan Hamba biasanya dataran-dataran yang tandus. Karena, dengan duduk seorang diri di dataran yang tandus dapat melihat  keindahan bintang Venus, sebagai sebuah perwujudan Tuan Putri bagi Hamba disini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampun, berjuta ampun, karena telah jatuh hati pada Tuan Putri. Katakan apa yang harus Hamba lakukan dengan perasaan Hamba ini? Hamba Tahu  mencintai dan menyukai Tuan Putri merupakan kesalahan terbesar bagi seorang prajurit. Apalagi seorang panglima seperti Hamba ini. Namun, adakah penjelasan dalam kitab Empu Tantular, Mahabarata, macopat, atau dalam kitab Bima Sakti bahwa jatuh cinta adalah sesuatu yang terlarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, hampir semua karya Yasadipura yang mengajarkan tentang etika, estetika, kebaikan dan keindahan sudah Hamba baca. Dan didalamnya tidak pernah Hamba temukan  kalau mencintai itu perbuatan dosa. Hamba tidak sedang bermaksud membela diri,Tuan Putri. Sekedar hanya ingin menuliskan kejujuran hati hamba pada Tuan Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba Mendengar bulan  ini adalah hari-hari yang penuh keberuntungan bagi Tuan Putri. Kebahagian Tuan Putri memiliki ruang  tersendiri dihati Hamba. Kebahagian Tuan Putri merupakan doa’ Hamba. Hamba tidak ingin melihat Tuan Putri bersedih hati, gundah gulana, patah semangat, tidak bergairah, atau putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepanjang Hamba masih hidup, membahagiakan Tuan Putri merupakan sebuah kewajiban bagi Hamba. Semoga dewi Fortuna itu tidak hanya datang dalam bulan-bulan ini, tetapi selalu datang setiap saat kepada Tuan Puntri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri, Hamba rela mengembara dalam jarak yang bermil-mil demi sebuah kebahagian Tuan Putri. Tidak peduli dengan terik panas, guyuran hujan, jalan yang terjal, hutan belukar, dan ketinggian gunung tetap akan Hamba hadapi demi sebuah kebagian Tuan Putri. Pengabdian Hamba pada tanah air ini tak lain sekedar hanya ingin melihat Tuan Putri bahagia selalu. Yah, semua apa yang hamba lakukan selama ini hanya untuk Anda, Tuan Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah sampai disin kejujuran pena hati Hamba malam ini, karena Hamba harus mengambalikan benda kaca pencari energi  pada teman Hamba. Dan juga untuk sekalian mencarikan beberapa lembaran daun yang dititahkan Tuan Putri pada Hamba sore tadi. Selamat Malam, Tuan Putri. Hamba amat sangat merindui  Anda. Sungguh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                       Sang Panglima&lt;br /&gt;                                                                                                          25.05.07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-6371753280392074289?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/6371753280392074289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=6371753280392074289&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6371753280392074289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/6371753280392074289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/surat-tuan-putri-3.html' title='Surat Tuan Putri (3)'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-679245442993664111</id><published>2007-06-26T21:19:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T21:23:50.612-07:00</updated><title type='text'>Surat Tuk Tuan Putri (4)</title><content type='html'>Hamba Kembali Menyapa.&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan Tuan Putri saat ini? Hamba dengar katanya Tuan Putri  sedang sakit. Semoga itu hanya sakit biasa. Hamba baru usai dari sebuah peperangan yang cukup amat melelahkan. Kini sudah banyak daerah yang berhasil kami taklukkan. Tetapi, lagi-lagi hamba kehilangan banyak prajurit yang tangguh dan gagah berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang begitulah yang namanya pertempuran Tuan Putri, maut datang mengintai setiap waktu, entah dalam kecamuk perang atau di dalam tenda-tenda.  Seorang teman yang hari ini duduk-duduk  bersama mungkin  hari ini, besok,  atau lusa akan gugur satu-persatu. Tapi kami tidak akan pernah menyerah dan mundur. Kami tidak akan pernah merasa takut, walau musuh berlari dengan cepat  sembari membawa tombak dan pedang, yang telah diasah untuk merobek dan menebas jiwa dan raga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Tuan Putri sendiri. Takutkah Tuan Putri kalau Istana yang ditinggali saat ini suatu saat direbut oleh pihak musuh? Adakah ketakutan pada Tuan Putri kalau orang-orang yang  saat ini setia pada Tuan Putri kelak  akan meninggalkan Tuan Putri seorang diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan dan kekawatiran itu mungkin sekali terjadi. Tuan Putri yang hamba hormati, tidak ada kepastian bahwa apa yang Tuan Putri sentuh sekarang ini besok akan bisa dipegang lagi. Begitu pun dengan singgasana Tuan Putri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf Tuan Putri, hamba tidak sedang menakut-nekuti. Hamba hanya sekedar ingin berbagi cerita yang sering hamba jalani sebagai seorang panglima. Dikehidupan ini tidak ada kekuasaan yang abadi, semua akan pudar bersama waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya cukup disini dulu surat hamba untuk Tuan Putri. Hamba akan kembali menyurati Tuan Putri tentu kalau hamba tidak gugur dalam sebuah pertempuran besok pagi.&lt;br /&gt;                                                                                                  &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;                                                                                              Sang Panglima&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-679245442993664111?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/679245442993664111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=679245442993664111&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/679245442993664111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/679245442993664111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/surat-tuk-tuan-putri-4.html' title='Surat Tuk Tuan Putri (4)'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-3330543353745875505</id><published>2007-06-26T20:47:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T20:54:08.770-07:00</updated><title type='text'>Samurai</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lelaki itu terjatuh. Roboh. Ususnya terburai keluar. Lalu darah mengalir seperti air. Segar dan menggenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa ia membunuh dirinya sendiri?”, tanyaku pada ayah suatu malam setelah kami menonton sebuah film tentang samurai. “Bukankah itu perbuatan bodoh?”, tanyaku lagi tak sabar. Ayah hanya tersenyum, “kau lihat saja dulu saja film itu”.&lt;br /&gt;Ayah memang sering sekali mengajakku menonton film-film. Malam itu ayah mengajakku menonton film samurai, kau akan belajar sesuatu, bisiknya sore tadi sambil merangkul pundakku ketika ia mengajakku sore tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mati. Tubuhnya kini hanya menjadi bangkai. Lima orang lelaki yang bersamanya tadi mulai pergi satu persatu. Yang tua lebih dulu, ia gurunya, kemudian disusul empat orang teman seperguruannya yang lain. Jejak mereka telah terpacak. Angin senja menjatuhkan daundaun dari pohonan. Lalu senja beranjak gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah beluim menjawab pertanyaanku tadi”, tanyaku lagi dengan nada menagih.&lt;br /&gt;“Baiklah”, suara ayah begitu dalam, seperti biasanya, “namanya harakiri”.&lt;br /&gt;“Harakiri?”, aku membenarkan posisi dudukku, memasang mata dan telingku baik-baik, aku mulai tertarik dengan apa yang akan ayah sampaikan. Memang beginilah biasanya. Ayah selalu mengajarkan sesuatu setelah kami menonton sebuah film. Minggu lalu ayah mengajariku sesuatu lewat cerita Promotheus. Tetapi sampai saat ini cerita favoritku masih cerita soal Guruminda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harakiri adalah bunuh diri yang dilakukan seorang samurai karena dia kalah bertarung atau melanggar sumpah samurai?” lanjut ayah, “seorang samurai bahkan bisa melakukan harakiri hanya jika ikatan rambutnya berhasil ditebas lawan”.&lt;br /&gt;“Itu perbuatan bodoh.” Potongku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, nak. Itulah samurai. Para Samurai melakukannya karena harga dir mereka telah tercerabut dari tempatnya. Dan bagi para samurai, harga diri adalah segala-galanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. “Tapi, bukankah itu sebuah pelanggaran terhadap kodrat manusia yang seharusnya mempertahankan nyawa mereka sebelum Tuhan berkehendak mencabutnya?”, tanyaku lagi. “Bukankah ayah juga pernah bercerita tentang orang-orang yang membunuh dirinya sendiri di masa Nabi, lalu Tuhan menegur mereka lewat sebuah firman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar, nak”, jawab ayah, “tetapi, malam ini kau akan belajar soal harga diri, pengorbanan, dan kesetiaan pada sumpah. Dan bagi seorang samurai, karena harga diri adalah sega-galanya, maka mereka lebih memilih mati di tangan mereka sendiri daripada harus berkhianat dan menjadi seorang pengecut. Itulah harakiri,”  lanjut ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Malam sudah mulai larut. Kantuk diam-diam mulai memberat di mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau juga harus seperti para samurai, nak.”&lt;br /&gt;“Apakah ayah menyuruhku bunuh diri daripada dituduh pengecut atau harus menanggung malu?”&lt;br /&gt;“Tidak, nak, pelajaran dari para samurai adalah soal menjunjung tinggi harga diri, kesetiaan pada nilai-nilai kehidupan, dan tanggung jawab.”&lt;br /&gt;“Aku tak mengerti maksud ayah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang samurai tidak lari dari pertempuran yang sedang ia jalani. Seorang samurai akan bertempur sampai mati. Demi harga diri, demi tanggung jawab. Dia akan tetap berlari memegang pedangnya sampai darah terakhir dari tubuhnya kering. Ia Ia akan terus berlari sebelum nyawanya benar-benar terbang, sepisau nyeri apapun luka di tubuhnya”, aku selalu suka melihat ayah berkobar-kobar seperti ini. Suaranya begitu berat dan dalam. Kelak suatu saat aku ingin seperti dia, selalu mngejarkan banyak hal pada anakku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan samurai terus berlari menghunus pedang mereka. Hujan anak panah musuh. Rumput-rumput berteriak menyaksikan darah mengalir di atas tubuh mereka.  Para samurai terkulai satu per satu. Tumbang. Satu, tujuh, sepuluh...tiga belas. Luka anak panah menggenang darah di tanah. Rumput-rumput kini mengidung dalam sekali, megatruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat anakku, tak ada satu pun di antara mereka yang bersembunyi atau melarikan diri. Mereka terus melawan sampai sayap-sayap kematian terbang dan darah mengalir sampai akhir”.&lt;br /&gt;Kami berdua terus menyaksikan adegan demi adegan dalam pertempuran sengit tersebut. Darah memuncrat dari salah seorang samurai setelah kepalanya tertebas. Tangan terpotong. Tubuh ditikam dari belakang. Bunyian aduan samurai memecahkan kesunyian malam dibawah purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekawanan ninja menebas seorang samurai dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, kau jangan seperti mereka!” ayahku menunjuk ninja-ninja yang membunuh Samurai dari belakang. “Mereka tidak berani menghadapi lawannya dengan jantan. Tidak ada kebanggaan baginya sekalipun dia telah membunuh puluhan orang.”&lt;br /&gt;Ayah membenarkan posisi duduknya kali ini ia bersandar, “dalam sebuah pertempuran, hidup dan mati bukanlah sebuah pilihan. Dalam peperangan pilihan adalah membunuh atau terbunuh. Kalah atau menang. Menyerang atau menyerah. Itulah hukumya. Seperti dalam kehidupan, mati bukanlah pilihan. Pilihan adalah soal menjadi pemenang atau pecundang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantuk semakin memberat di ujung mata. Baru saja filmnya selesai. Ayah menyuruhku bergegas tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi selepas sholat subuh aku dan ayah kembali melanjutkan diskusi. “Yah, apakah samurai dibuat untuk  membunuh?”, tanyaku di sela lari-lari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menghentikan langkahnya, “Tidak, nak. Samurai adalah lambang kewaspadaan, mawas diri, dan simbol kesatria”.&lt;br /&gt;“Saya tidak mengerti,Yah?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, hidup ini kadang keras tanpa sebuah alasan. Dan kadang juga damai tanpa sebuah perjuangan. Para samurai menyadari semua itu, belajar berperang sama artinya siap menghadapi konsekuensi kehidupan”. Jelas ayah sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ayah, boleh aku bertanya tentang satu hal?”, pintaku. “Tentang apa, nak?” balik tanya ayah dan memegang pundakku. “Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah peperangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tehnik, Nak.” Spontan ayah menjawab penuh semangat.&lt;br /&gt; “Ratusan atau pun ribuan pasukan bukanlah jaminan tuk memenangkan sebuah pertempuran,Nak. Kau harus tahu kekuatan musuh dan kelemahan dirimu sendiri. Dan, kau harus mencari jawaban bagaimana tuk mengalahkan musuhmu.” Ayah berhenti sejenak, menarik nafas. Pesan ayah ini melemparkanku pada legenda kemengan Separtakus ketika menghadapi berperang dengan tentara Romawi. Separtakus adalah simbol perlawanan para budak terhadap tuannya. Dia mampu mengalahkan pasukan Romawi karena dia mengusai taknik berperang dan tahu kelemahan pasukan Romawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu masih ingat siasat perang Garuda Ngalayang dalam perang Baratayuda?”, tanya ayah tentang cerita Pewayangan Jawa.&lt;br /&gt;“Iya, Yah saya ingat?, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang Baratayuda pihak pendawa menggunakan siasat Burung Garuda Melayang. Arjuna menjadi patuknya, Prabu Drupada menjadi kepalanya, Prabu Kresna duduk sekereta dengan Arjunna. Drustajumna menduduki sayap kanan, Wrekodara sayap kiri, Setyaki menjadi ekor, para raja berkelompok di tengkuk di sekeliling Prabu Yudistira.  “Para Pendawa dan Korawa itu tidak hanya bermodalkan keberanian dan ketangkasan berperang, Nak. Tapi mereka memiliki tehnik yang mengagumkan untuk mengalahkan musuhnya.” Matahari sudah muncul di ufuk timur, jalanan sudah mulai ramai dengan puluhan mobil dan kendaran bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, menghadapi hidup pun juga membutuhkan tehnik!. Tidak  asal menjalani adanya, kamu harus memiliki taktik bagaimana agar roda zaman tidak melindasmu begitu saja”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apalagi, Yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senjata! Kamu harus punya sesuatu yang bisa diandalkan. Buat dia ketakutan setiap kali mendengar namamu disebut-sebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuat Arjuna di takuti oleh para musuhnya?”, kali ini ayah balik tanya.&lt;br /&gt;“Dia memiliki Panah Pesopati, Trisoela, dan Ardadedali”, jawabku.&lt;br /&gt;“Tepat sekali, Nak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pun juga harus seperti Arjuna jangan seperti gelandangan itu”, kata ayah  sembari menununjuk ke gelandangan yang masih tidur pulas di emperan toko. &lt;br /&gt;“Lihat nak, betapa malangnya dirinya,” lanjut ayah.&lt;br /&gt;“Bukankah itu sudah takdir, Yah?”, Tanyaku tidak puas.&lt;br /&gt;“Tidak, Nak. Itu bukan kehendak Tuhan. Setiap manusia adalah nakhoda bagi kehidupannya sendiri”, Balas ayah.&lt;br /&gt;“Kau lihat mobil itu! Ia akan tetap diam kalau tak ada orang yang mengemudikannya. Hidup ini pun juga demikian, kita tidak akan pernah bisa hebat kalau dalam diri ini tidak ada keinginan tuk kesana?. Dan kita sendirilah sang sopir tuk menjalankan roda hidup kita, bukan orang lain, Nak!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat, Nak. Kamu harus memiliki siasat dan senjata tuk menjadi sang juara. Tanpa itu kamu jangan pernah bermimpi menjadi sang pemenang. Dan bertarunglah seperti para samurai”.&lt;br /&gt;“Apa kamu sanggup, nak?”, tanya ayah setibanya di depan halaman rumah.&lt;br /&gt;“Siap, Yah!”, kataku penuh percaya diri.&lt;br /&gt; Jogja-09-09-06&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-3330543353745875505?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/3330543353745875505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=3330543353745875505&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/3330543353745875505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/3330543353745875505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/samurai.html' title='Samurai'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8200609103978836192.post-8701330787433660836</id><published>2007-06-24T22:10:00.000-07:00</published><updated>2007-06-24T22:13:09.111-07:00</updated><title type='text'>Berani Mengatakan Tidak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;‘Bisnis pasir’ yang dilakukan Negara tetangga dengan mengeduk besar-besaran pasir laut Indonesia untuk memperluas wilayah negaranya telah berjalan dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun (sejak 1978). Ekspor pasir laut ke Singapura ini  awalnya merupakan kebutuhan untuk pendalaman proyek pelabuhan Batam. Pendalaman alur pelabuhan ini dimaksudkan untuk memudahkan keluar masuk lalu lintas kapal di pelabuhan Batam. Untuk mewujudkan proyek ini, budget yang besar pun dibutuhkan. Di sisi lain Singapura saat itu sedang membutuhkan pasir laut dalam proyek reklamasi untuk memperluas wilayahnya. Maka terjadilah akat jual beli pasir laut antara pihak Otoritas Batam dengan Singpura karena dipertemukan dua kebutuhan tadi.&lt;br /&gt;Pengelolaan dan pemanfaatan pasir laut di Provinsi Riau sudah dimuat dalam Kepres No. 41/1973 tentang penetapan wilayah usaha di Pulau Batam, dan diperkuat lagi dengan Surat Menteri Pertambangan dan Energi No. 370/K/MPE/1985 mengenai kewenangan pihak Otoritas Batam dalam pemberian izin penambangan pasir laut di kepulau tersebut. Kemudian pada 1976 muncul lah tujuh pemain besar dalam bisnis ini: PT Equator Reka Citra, PT Indoguna Yuda Persada, PT Barelang Sugi Bulang, PT Nalendra Bhakti Persada, PT Sangkala Duta Segara, PT Sugi Malaya, dan PT Citra Harapan Abadi, yang kesemuanya menjadi tangan kanan dalam proyek penjualan pasir laut ke Singapura.&lt;br /&gt;Penjualan pasir laut tersebut pun terus berlanjut menjadi ajang bisnis. Para ‘cukong’ terus saja mengeruk pasir yang ada di beberapa pulau kecil di wilayah kepulauan Riau karena tergiur Dollar Singapura, tanpa perduli terhadap kerusakan lingkungan dan mengikisnya batas territorial kita. Karena harga yang harus bayar relatif murah, Singapura pun begitu menikmati bsinis ini.&lt;br /&gt;Berasarkan data Kementerian Kelautan, akibat mengeruk pasir dari Indonesia, wilayah Singapura bertambah sekitar 20 % pada 2001. Luas negara yang melepaskan diri dari Malaysia pada 1965 ini pun bertambah dari 633 menjadi 760 kilometer persegi. Dan kalau melihat  data dari  Deperindag, diperkirakan lebih 60 % ekspor pasir laut ke Singapura tersebut ilegal. Penambangan pasir ilegal ini menyebabkan dalam satu tahun  Indonesia secara ekonomi  dirugikan sebesar Rp 2,25 triliun atau sekitar 248,89 juta dollar Singapura–angka yang sangat fantastis!&lt;br /&gt;Proyek-proyek reklamasi yang sudah selesai dikerjakan oleh Singapura diantaranya Lapangan Terbang Changi I dan II, Proyek East Cost, Proyek Tanjung Rhu, Siloso Beach Resort (tempat yang dirancang untuk wisata di Pulau Sentosa). Penambahan  wilayah ini dikemudian hari akan berdampak pada semakin luasnya wilayah laut teritorial negara yang berpenduduk 4 juta jiwa tersebut. Artinya, Indonesia sekarang harus bersiap-siap kehilangan pulau-pulaunya yang berada diperbatasan, karena akan masuk ke dalam wilayah territorial Singapura. Atau tenggelam karena kehabisan daratan. Konsekuensi lain yang harus ditanggung Indonesia adalah rusaknya ekosistem dan habitat kelautan. Hal ini tentu akan berdampak langsung terhadap kehidupan para nelayan di kepualaun Riau.&lt;br /&gt;“Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali”. Mungkin hal itu yang lebih tepat dilakukan pemerintah saat ini.  Pelarangan penjualan pasir laut dan pasir darat harus dihentikan dari sekarang. Karena ini sudah menyangkut masa depan wilayah teritorial bangsa Indonesia.  Pemerintah harus berani mengambil langkah tegas, jangan berhenti hanya pada dataran wacana. Masyarakat saat ini sudah lelah dengan janji-janji palsu.&lt;br /&gt;Jika Soekarno dulu berani mengatakan “go to hell with your aid”  terhadap IMF. Maka Pemerintah sekarang  harus berani mengatakan “tidak!” kepada  Singapura. Demi kemaslahatan masa depan bangsa. Dan  bagi para pengusaha yang terbukti terlibat dalam bisnis mafia ekspor pasir laut ini, harus segera diproses secara hukum. &lt;em&gt;Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8200609103978836192-8701330787433660836?l=nizarelang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nizarelang.blogspot.com/feeds/8701330787433660836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8200609103978836192&amp;postID=8701330787433660836&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8701330787433660836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8200609103978836192/posts/default/8701330787433660836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nizarelang.blogspot.com/2007/06/berani-mengatakan-tidak.html' title='Berani Mengatakan Tidak'/><author><name>Mohammad Nizar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04881085175252700712</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_2ZMFyWztHEM/SH0hbCSAb7I/AAAAAAAAAAY/XCQHrb2jwe8/S220/PIC_0122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
