Selasa, 26 Juni 2007

Samurai

Lelaki itu terjatuh. Roboh. Ususnya terburai keluar. Lalu darah mengalir seperti air. Segar dan menggenang.

“kenapa ia membunuh dirinya sendiri?”, tanyaku pada ayah suatu malam setelah kami menonton sebuah film tentang samurai. “Bukankah itu perbuatan bodoh?”, tanyaku lagi tak sabar. Ayah hanya tersenyum, “kau lihat saja dulu saja film itu”.
Ayah memang sering sekali mengajakku menonton film-film. Malam itu ayah mengajakku menonton film samurai, kau akan belajar sesuatu, bisiknya sore tadi sambil merangkul pundakku ketika ia mengajakku sore tadi.

Lelaki itu mati. Tubuhnya kini hanya menjadi bangkai. Lima orang lelaki yang bersamanya tadi mulai pergi satu persatu. Yang tua lebih dulu, ia gurunya, kemudian disusul empat orang teman seperguruannya yang lain. Jejak mereka telah terpacak. Angin senja menjatuhkan daundaun dari pohonan. Lalu senja beranjak gelap.

“Ayah beluim menjawab pertanyaanku tadi”, tanyaku lagi dengan nada menagih.
“Baiklah”, suara ayah begitu dalam, seperti biasanya, “namanya harakiri”.
“Harakiri?”, aku membenarkan posisi dudukku, memasang mata dan telingku baik-baik, aku mulai tertarik dengan apa yang akan ayah sampaikan. Memang beginilah biasanya. Ayah selalu mengajarkan sesuatu setelah kami menonton sebuah film. Minggu lalu ayah mengajariku sesuatu lewat cerita Promotheus. Tetapi sampai saat ini cerita favoritku masih cerita soal Guruminda.

“Harakiri adalah bunuh diri yang dilakukan seorang samurai karena dia kalah bertarung atau melanggar sumpah samurai?” lanjut ayah, “seorang samurai bahkan bisa melakukan harakiri hanya jika ikatan rambutnya berhasil ditebas lawan”.
“Itu perbuatan bodoh.” Potongku kesal.

“Tidak, nak. Itulah samurai. Para Samurai melakukannya karena harga dir mereka telah tercerabut dari tempatnya. Dan bagi para samurai, harga diri adalah segala-galanya”.

Aku mengangguk. “Tapi, bukankah itu sebuah pelanggaran terhadap kodrat manusia yang seharusnya mempertahankan nyawa mereka sebelum Tuhan berkehendak mencabutnya?”, tanyaku lagi. “Bukankah ayah juga pernah bercerita tentang orang-orang yang membunuh dirinya sendiri di masa Nabi, lalu Tuhan menegur mereka lewat sebuah firman?”

“Kau benar, nak”, jawab ayah, “tetapi, malam ini kau akan belajar soal harga diri, pengorbanan, dan kesetiaan pada sumpah. Dan bagi seorang samurai, karena harga diri adalah sega-galanya, maka mereka lebih memilih mati di tangan mereka sendiri daripada harus berkhianat dan menjadi seorang pengecut. Itulah harakiri,” lanjut ayah.

Aku mengangguk. Malam sudah mulai larut. Kantuk diam-diam mulai memberat di mataku.

***

“Kau juga harus seperti para samurai, nak.”
“Apakah ayah menyuruhku bunuh diri daripada dituduh pengecut atau harus menanggung malu?”
“Tidak, nak, pelajaran dari para samurai adalah soal menjunjung tinggi harga diri, kesetiaan pada nilai-nilai kehidupan, dan tanggung jawab.”
“Aku tak mengerti maksud ayah”.

“Seorang samurai tidak lari dari pertempuran yang sedang ia jalani. Seorang samurai akan bertempur sampai mati. Demi harga diri, demi tanggung jawab. Dia akan tetap berlari memegang pedangnya sampai darah terakhir dari tubuhnya kering. Ia Ia akan terus berlari sebelum nyawanya benar-benar terbang, sepisau nyeri apapun luka di tubuhnya”, aku selalu suka melihat ayah berkobar-kobar seperti ini. Suaranya begitu berat dan dalam. Kelak suatu saat aku ingin seperti dia, selalu mngejarkan banyak hal pada anakku nanti.

Puluhan samurai terus berlari menghunus pedang mereka. Hujan anak panah musuh. Rumput-rumput berteriak menyaksikan darah mengalir di atas tubuh mereka. Para samurai terkulai satu per satu. Tumbang. Satu, tujuh, sepuluh...tiga belas. Luka anak panah menggenang darah di tanah. Rumput-rumput kini mengidung dalam sekali, megatruh.

“Lihat anakku, tak ada satu pun di antara mereka yang bersembunyi atau melarikan diri. Mereka terus melawan sampai sayap-sayap kematian terbang dan darah mengalir sampai akhir”.
Kami berdua terus menyaksikan adegan demi adegan dalam pertempuran sengit tersebut. Darah memuncrat dari salah seorang samurai setelah kepalanya tertebas. Tangan terpotong. Tubuh ditikam dari belakang. Bunyian aduan samurai memecahkan kesunyian malam dibawah purnama.

Sekawanan ninja menebas seorang samurai dari belakang.

“Nak, kau jangan seperti mereka!” ayahku menunjuk ninja-ninja yang membunuh Samurai dari belakang. “Mereka tidak berani menghadapi lawannya dengan jantan. Tidak ada kebanggaan baginya sekalipun dia telah membunuh puluhan orang.”
Ayah membenarkan posisi duduknya kali ini ia bersandar, “dalam sebuah pertempuran, hidup dan mati bukanlah sebuah pilihan. Dalam peperangan pilihan adalah membunuh atau terbunuh. Kalah atau menang. Menyerang atau menyerah. Itulah hukumya. Seperti dalam kehidupan, mati bukanlah pilihan. Pilihan adalah soal menjadi pemenang atau pecundang.”

Kantuk semakin memberat di ujung mata. Baru saja filmnya selesai. Ayah menyuruhku bergegas tidur.

***

Pagi selepas sholat subuh aku dan ayah kembali melanjutkan diskusi. “Yah, apakah samurai dibuat untuk membunuh?”, tanyaku di sela lari-lari kecil.

Ayah menghentikan langkahnya, “Tidak, nak. Samurai adalah lambang kewaspadaan, mawas diri, dan simbol kesatria”.
“Saya tidak mengerti,Yah?”.

“Nak, hidup ini kadang keras tanpa sebuah alasan. Dan kadang juga damai tanpa sebuah perjuangan. Para samurai menyadari semua itu, belajar berperang sama artinya siap menghadapi konsekuensi kehidupan”. Jelas ayah sambil tersenyum.

“Ayah, boleh aku bertanya tentang satu hal?”, pintaku. “Tentang apa, nak?” balik tanya ayah dan memegang pundakku. “Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah peperangan?”

“Tehnik, Nak.” Spontan ayah menjawab penuh semangat.
“Ratusan atau pun ribuan pasukan bukanlah jaminan tuk memenangkan sebuah pertempuran,Nak. Kau harus tahu kekuatan musuh dan kelemahan dirimu sendiri. Dan, kau harus mencari jawaban bagaimana tuk mengalahkan musuhmu.” Ayah berhenti sejenak, menarik nafas. Pesan ayah ini melemparkanku pada legenda kemengan Separtakus ketika menghadapi berperang dengan tentara Romawi. Separtakus adalah simbol perlawanan para budak terhadap tuannya. Dia mampu mengalahkan pasukan Romawi karena dia mengusai taknik berperang dan tahu kelemahan pasukan Romawi.

“Kamu masih ingat siasat perang Garuda Ngalayang dalam perang Baratayuda?”, tanya ayah tentang cerita Pewayangan Jawa.
“Iya, Yah saya ingat?, kataku.

Dalam perang Baratayuda pihak pendawa menggunakan siasat Burung Garuda Melayang. Arjuna menjadi patuknya, Prabu Drupada menjadi kepalanya, Prabu Kresna duduk sekereta dengan Arjunna. Drustajumna menduduki sayap kanan, Wrekodara sayap kiri, Setyaki menjadi ekor, para raja berkelompok di tengkuk di sekeliling Prabu Yudistira. “Para Pendawa dan Korawa itu tidak hanya bermodalkan keberanian dan ketangkasan berperang, Nak. Tapi mereka memiliki tehnik yang mengagumkan untuk mengalahkan musuhnya.” Matahari sudah muncul di ufuk timur, jalanan sudah mulai ramai dengan puluhan mobil dan kendaran bermotor.

“Nak, menghadapi hidup pun juga membutuhkan tehnik!. Tidak asal menjalani adanya, kamu harus memiliki taktik bagaimana agar roda zaman tidak melindasmu begitu saja”.

“Lalu apalagi, Yah?”

“Senjata! Kamu harus punya sesuatu yang bisa diandalkan. Buat dia ketakutan setiap kali mendengar namamu disebut-sebut”.

“Apa yang membuat Arjuna di takuti oleh para musuhnya?”, kali ini ayah balik tanya.
“Dia memiliki Panah Pesopati, Trisoela, dan Ardadedali”, jawabku.
“Tepat sekali, Nak”.

“Kau pun juga harus seperti Arjuna jangan seperti gelandangan itu”, kata ayah sembari menununjuk ke gelandangan yang masih tidur pulas di emperan toko.
“Lihat nak, betapa malangnya dirinya,” lanjut ayah.
“Bukankah itu sudah takdir, Yah?”, Tanyaku tidak puas.
“Tidak, Nak. Itu bukan kehendak Tuhan. Setiap manusia adalah nakhoda bagi kehidupannya sendiri”, Balas ayah.
“Kau lihat mobil itu! Ia akan tetap diam kalau tak ada orang yang mengemudikannya. Hidup ini pun juga demikian, kita tidak akan pernah bisa hebat kalau dalam diri ini tidak ada keinginan tuk kesana?. Dan kita sendirilah sang sopir tuk menjalankan roda hidup kita, bukan orang lain, Nak!”.

“Ingat, Nak. Kamu harus memiliki siasat dan senjata tuk menjadi sang juara. Tanpa itu kamu jangan pernah bermimpi menjadi sang pemenang. Dan bertarunglah seperti para samurai”.
“Apa kamu sanggup, nak?”, tanya ayah setibanya di depan halaman rumah.
“Siap, Yah!”, kataku penuh percaya diri.
Jogja-09-09-06

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Awalnya aku hanya suka membaca, tapi sejak umur berapa aku sudah tidak ingat lagi. Seiring berjalannya durasi waktu, aku sadar sekedar membaca tidaklah cukup dalam kehidupan yang hanya sesaat ini. Maka, mulailah aku menulis, menulis apa saja yang ingin aku tuliskan, sebab seorang penulis itu seperti seorang arkeolog yang aktivitasnya adalah mengumpulkan atau menggali fosil-fosil yang terpendam dalam tanah. Begitulah aku, akan kutuliskam setiap kali kutemukan penggalan-penggalan realitas yang ku temui di sepanjang ruas jalan kehidupan ini, biar di kehidupan mendatang apa yang ku tuliskan ini bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Arsip Blog

AKu

AKu
Menulislah, Nak!