Selasa, 26 Juni 2007

Surat Tuan Putri (2)

Ini Hamba, Tuan Putri

Tahukah Tuan putri, sejak dua hari yang lalu Hamba begitu ingin melihat Tuan Putri. Entahlah, mengagumi Tuan Putri bagi Hamba merupakan kesadaran dan diluar ketidaksadaran. Saat-saat setiap kali Hamba ingin bertemu Tuan Putri, Hamba selalu berputar-putar diluar lingkungan istana, berharap bisa bertemu dengan Tuan Putri. Dan ketika tak ada tanda-tanda kemunculan Tuan Putri yang bisa hamba lakukan hanya mengadu pada kuda tunggangan Hamba. Pohon Maja itulah yang menjadi saksi pengaduan Hamba pada si Putih, hamba biasa memanggil kuda tunggangan Hamba dengan sebutan si putih sesuai dengan warna kulitnya. Tapi si Putih hanya mengibas-ngibaskan ekornya ke badan dalam setiap pengaduan hamba padanya. Hanya dia dan pohon Maja itulah yang benar-benar memahami perasaan Hamba terhadap Tuan Putri. Pernahkah Tuan Putri memahami bahasa ombak sebelum ia menyapa pantai? Kerinduan Hamba pada Tuan Putri serupa deburan ombak itu Tuan Putri, begitu dalam dan sederhana.

Sering Hamba berandai-andai, ingin mengajak Tuan Putri untuk menunggangi si Putih, bersama-sama melihat keindahan alam diluar istana. Tuan Putri, betapa alam ini amat mengangumkan, gunung-gunung berdiri tegak dengan puncaknya yang hijau, bunga-bunga bermekaran menambahi indahnya ladang-ladang, cericit-cericit suara burung terdengar merdu seperti deru angin sepoi, dan awan-awan yang menghiasi langit serupa pameran lukisan-lukisan termegah di kehidupan ini. Namun, apalah artinya semua keindahan itu jika hanya dinikmati seorang diri, tak ada artinya Tuan Putri. Yang ada hanya sebatas kekaguman belaka atas semua keindahan, lalu memuji Sang Pemilik semua keindahan ini.

Dan, begitu pula halnya dengan semua keindahan yang ada dalam istana, akan tidak bermakna kalau hanya sebatas untuk dinikmati Tuan Putri sendiri. Begitulah hidup, Tuan Putri. Kita semuanya ingin sama-sama menyaksikan hidup orang yang paling kita sayangi, dan dia pun juga mengharapkan kita untuk menjadi saksi hidupnya. Agar dikemudian hari saat kita terlempar ke masa lalu akan ada orang yang menanggapinya, kemudian mungkin kita akan sama-sama tersenyum, terbahak, atau bersama-sama menangis.
Tuan Putri, hari ini Hamba terluka, busur anak panah menancap tepat dipaha kiri Hamba. Untunglah anak panah itu tidak beracun, dan mungkin beberapa hari lagi akan mengering.
Tuan Putri, sepertinya beberapa prajurit sudah tahu tentang kekaguman Hamba terhadap Tuan Putri. Selepas anak panah itu dicabut dari paha Hamba membuat malam-malam Hamba menjadi begitu dingin dan berkeringat. Dan dalam setiap guman, hati Hamba selalu memanggil Tuan Putri. Ketika pulas bibir Hamba seringkali menyebut-menyebut Tuan Putri. Dari igauan inilah kemudian banyak prajurit yang tahu tentang rahasia terdalam lubuk hati Hamba. Tapi biarlah, Hamba tidak peduli sekalipun seluruh pasukan Hamba telah mengetahui semua ini. Karena mencintai dan menyayangi seorang pada akhirnya secara perlahan akan nampak kepermukaan. Bukankah begitu, Tuan Putri?

Tuan Putri, karena hari sudah menjelang sore, sebentar lagi keindahan mega ini segera akan dirampas oleh malam mungkin Hamba cukupkan sampai disini dulu surat Hamba. Hamba berjanji akan selalu menyurati Tuan Putri, sepanjang tubuh ini tidak terbelah oleh tebasan pedang atau tusukan tombak. Doa’kan selalu untuk kemenangan semua pertempuran Hamba, demi kejayaaan negeri kita untuk saat ini dan saat-saat mendatang.

“Cukuplah melihat Venus dimalam hari sebagai pelipur lara rasa rindu Hamba pada Tuan Putri di negeri yang jauh ini.”


Sang Panglima
21.05.07

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Awalnya aku hanya suka membaca, tapi sejak umur berapa aku sudah tidak ingat lagi. Seiring berjalannya durasi waktu, aku sadar sekedar membaca tidaklah cukup dalam kehidupan yang hanya sesaat ini. Maka, mulailah aku menulis, menulis apa saja yang ingin aku tuliskan, sebab seorang penulis itu seperti seorang arkeolog yang aktivitasnya adalah mengumpulkan atau menggali fosil-fosil yang terpendam dalam tanah. Begitulah aku, akan kutuliskam setiap kali kutemukan penggalan-penggalan realitas yang ku temui di sepanjang ruas jalan kehidupan ini, biar di kehidupan mendatang apa yang ku tuliskan ini bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Arsip Blog

AKu

AKu
Menulislah, Nak!